REDEFINISI DAN REPOSISI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Oleh: Yuli Utanto*
Sebuah bidang studi apalagi jika telah menjadi satu dari cabang pengetahuan harus selalu meredefinisi diri guna memutakhirkan dan menjawab tuntutan perubahan dan kemajuan jaman, sekaligus menjadi jalan pembuka [endorsement] kepada kemajuan bidang studi itu sendiri. Langkah paling mendasar dan strategis kepada hal tersebut dimulai dari meletakkan dasar terminologinya secara kokoh.
Alan Januszewski dan Michael Molenda dalam buku Educational Technology: A Definition with Commentary menggambarkan proses tersebut secara gamblang, terperinci, dan sistematis bagaimana upaya redefinisi dan reposisi suatu bidang kajian pengetahuan melaksanakan tugas besar itu, komprehensif dengan konsekuensi dan kemungkinan-kemungkinan etis-praksisnya.
Di bidang Teknologi Pendidikan [di Amerika Serikat khususnya] upaya redefinisi dan memperbaharui terminologi itu dilakukan oleh Association for Educational Communication and Technology [AECT].
Terminologi yang sering hanya terdiri dari beberapa baris kalimat, dan bahkan satu paragraf itu, sebenarnya merupakan sebuah diskursus yang panjang dan mendalam serta kompleks dalam proses kelahirannya. Dan hasilnya dapat sesingkat terminologi Teknologi Pendidikan [Educational Technology] paling mutakhir berikut:
“Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources; Teknologi pendidikan merupakan kajian dan penerapan nilai etik dalam rangka memfasilitasi dan meningkatkan performa pembelajaran melalui pembuatan, penggunaan, dan pengaturan dari pemanfaatan proses dan sumber-sumber teknologi.”
Upaya yang dilakukan oleh Association for Educational Communication and Technology [AECT] guna meredefinisi dan mengajukan pembaharuan terminologi Teknologi Pendidikan merupakan usaha untuk menjawab perubahan paradigma dunia pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Perbaikan dari terminologi terdahulu demi mengekselerasi kebutuhan aktual pendidikan hari ini, dan sekaligus mengantisipasi kemungkinan perubahan, setidaknya untuk satu dekade ke depan.
SEJARAH DAN EVOLUSI STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Cabang ilmu pengetahuan Teknologi Pendidikan merupakan evolusi dari gerakan atau era pemanfaat teknologi audiovisual di wilayah pendidikan. Pada mulanya [1963] istilah Audiovisual Communication-lah yang dipakai secara fakultatif untuk menggambarkan bidang studi tentang Teknologi Pendidikan.
Definisinya saat itu [1963] adalah sebagai berikut:
Audiovisual communication is that branch of educational theory and practice primarily concerned with the design and use of messages which control the learning process. It undertake: (a) the study of the unique and relative strengths and weakness of both pictorial and nonrepresentational messages which may be employed in the learning process for any purpose; and (b) the structuring and systematizing of messages by men and instruments in an educational environment. These undertakings include the planning, production, selection, management, and utilization of both components and entire instructional systems.
Dasar asumsi dari definisi tersebut adalah bahwa hasil-hasil teknologi dan pemanfaatannya bertujuan untuk mengefektifkan metode dan medium komunikasi yang berkontribusi pada pengembangan potensi pembelajar secara penuh. “Its practical goal is the efficient utilization of every method and medium of communication which can contribute to the development of the learner’s full potential” [Ely, 1963: 18-19]
Dalam perkembangan selanjutnya, wilayah kerja pemanfaatan audiovisual di ranah pendidikan meluas, baik pada bidang kajian maupun aplikasi dan implementasinya. Sehingga kemudian berkembang menjadi suatu cabang studi mandiri [bukan lagi cabang dari kajian teori pendidikan] di dunia pendidikan yang kita kenal sekarang sebagai bidang studi Teknologi Pendidikan. Hal terlebih didukung hasil-hasil penelitian dan investigasi yang membuktikan bahwa media dan teknologi mampu menjadi piranti yang efektif dalam proses pengajaran dan pembelajaran.
Pembaharuan definisi Teknologi Pendidikan selanjutnya terjadi pada tahun 1972:
Educational technology is the field involved in the facilitation of human learning through the systemic identification, development, organization and utilization of full range of learning resources and through the management of theses process [Ely, 1972: 36]
Berbeda dengan definisi 1963 yang banyak menuai kritik, definisi 1972 hanya mendapat kritik terbuka [artikel] dari Dennis Myer dari Syracuse University dan Lida Cochran dari Iowa University [Myers and Cochran, 1973]
Maka sejak 1972, konsep Audiovisual Communication berubah menjadi Educational Technology dan organisasi yang memayunginya pun berganti dari DAVI [Department of Audiovisual Instruction] menjadi AECT [Association for Educational Communication and Technology]. Selanjutnya definisi 1972 tersebut diperbaharui dengan munculnya definisi edisi ketiga [1977], dan kemudian definisi 1994. Definisi 1977 berbunyi:
Educational Technology is a complex, integrated process, involving people, procedures, ideas, devices and organization, for analyzing problems and devising, implementing, evaluating and managing solutions to those problems, involved in all aspects of human learning. In Educational Technology, the solution to problems take the form of all the learning resources that are designed and/or selected and/or utilized to bring about learning; these resources are identified as messages, people, materials, devices, techniques, and settings. The process for analyzing problems and devising, implementing and evaluating solutions are identified by the educational development functions of research theory, design, production, evaluation selection, logistics, utilization, and utilization dissemination. The process of directing or coordinating one or more of these functions are identified by the educational management functions of an organizational management and personnel management [AECT, 1977: 1]
Pada definisi 1994 Teknologi Pendidikan mulai mendekati kebulatan definisinya. Definisi-definisi pembaharuan yang datang kemudian ini memang tak lagi terasa eksplisit, akan tetapi bersinergi dan terkoneksi langsung dengan prinsip-prinsip pendidikan purna desain [well-designed], pengajaran yang tersampaikan dengan baik [well-delivered instruction], dan pembelajaran efektif [effective learning]. Basic assumption yang mendasari paradigma aplikasi dan implementasinya juga semakin sejalan dengan paradigma kontemporer pendidikan [advanced paradigms in education field], seperti pendidikan dan pembelajaran yang lebih berpihak kepada pembelajar [learners] serta menempatkan tekanan landasan fungsionalnya mengintermediasi dan memfasilitasi proses pendidikan/pembelajaran, bukan lagi sebagai penyedia informasi, drill dan materi latihan [drill and practice] dalam pemaknaan mengontrol sebuah proses pembelajaran [to control learning]. Bunyi dari definisi dari Educational Technology atau sering pula disebut Instructional Technology 1994–terminologi atau sejak 1994 dipakai saling-tukar dalam praksisnya, secara administrasi [officialy] terma Instructional Technology-lah yang dipakai, dan meski demikian penggunaan terma Educational Technology juga diterima, adalah:
Instructional Technology is the theory and practice of design, development, utilization, management, and evaluation of processes and resources for learning [Seels & Richey, 1994: 1]
Konsensus paling mutakhir tentang definisi dari Teknologi Pendidikan dirilis oleh Board of Directors AECT pada pertemuan musim panas di Chicago Oktober 2004, sebagaimana dikutipkan pada bagian awal.
Inisiatif pembaharuan definisi bermula dari pemikiran untuk melahirkan pembaruan definisi Teknologi Pendidikan [Educational technology] dalam “satu kalimat yang singkat-padat” [one-sentence definition].
Upaya dimulai dengan penyelenggaraan konvensi Dallas [2002] untuk mengumpulkan informasi dan menyusun serta menseminasi draf hingga konvensi Anaheim [2003]. Komite sepakat untuk menggunakan “nontechnical language” dalam penyusunan definisi satu kalimat tersebut.
Sepanjang konvensi Anaheim aspirasi untuk menghasil definisi dalam satu kalimat semakin menguat. Akan tetapi, pasca konvensi Anaheim hingga berakhir 2003 tidak juga berhasil disepakati draf final dari definisi tersebut. dengan bantuan dan fasilitasi dari the Professors of Instructional Development and Technology [PIDT] pada Mei 2004 seluruh komite penyusunan definisi bisa memenuhi kuorum dan bersidang secara tatap muka melalui telekonferen—komunikasi sepanjang proses penyusunan draf definisi dalam rentang antara konvensi Dallas dan Annaheim memang didominasi pemanfaatan saluran telepon dan kontak email. Akhirnya, komite berhasil mencapai konsesi final dari definisi satu kalimat, yaitu:
“Educational Technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.”
Konsensus untuk menggunakan “nontechnical language” dalam penyusunan definisi satu kalimat tersebut berkonsekuensi bahwa para educator technologist untuk mampu memahami, memaknai, mengimplemtasikan dan mengaplikasikan definisi dari Teknologi Pendidikan tersebut. Setidaknya, di dalam bukunya ini Januszewski dan Molenda menekankan pemahaman komprehensif terhadap sebelas anasir dalam ilmu dan bidang profesi Teknologi Pendidikan yang harus dipahami dengan baik oleh para profesional Teknologi Pendidikan, yaitu pemahaman dan pemaknaan terhadap apa yang dimaksud dengan: (1) fasilitating, (2) learning, (3) improving, (4) performance, (5) creating, (6) using, (7) managing, (8) appropriate, (9) technological, (10) processes, dan (11) resources.
Pemahaman tentang peran dan fungsi memfasilitasi pembelajaran [facilitating learning] misalnya, Teknologi Pendidikan tak bisa lagi sekadar dipandang sebagai penyediaan informasi, atau menyiapkan drill dan latihan, akan tetapi menyediakan tempat bagi permasalah [learning content] guna dibahas serta menyediakan piranti dalam eksplorasi belajar. Pada sisi inilah Teknologi Pendidikan menempatkan dirinya sebagai agen fasilitator bagi proses belajar, bukan sebagai penyebab dan pengontrol pembelajaran. Dalam praksisnya prinsip memfasilitasi ini dapat berupa mendesain lingkungan atau kondisi yang mendukung pembelajaran, mengelola sumber daya dan penyediaan piranti pembelajaran. Peristiwa belajar dapat saja berlangsung secara tatap muka, atau dalam lingkungan virtual, miniatur dari situasi/lingkungan, atau sebuah pembelajaran yang berlangsung dari jarak jauh dengan pemanfaatan hasil-hasil kemajuan rekayasa ilmu dan teknologi.
Sementara pemaknaan terhadap belajar/pembelajaran seharusnya berekselerasi dengan paradigma kontemporer pendidikan. Saat ini misalnya, model pembelajaran yang sekadar pengalihan informasi kepada pembelajar [retention of information] dan dalam rangka semata lulus tes formal, tidak lagi sejalan dengan tujuan pembelajaran aktual. Teknologi Pendidikan dengan demikian harus sejalan dengan tujuan dari pembelajaran aktual yaitu pemeroleh pengetahuan [knowledge], pemahaman [understanding], serta keterampilan dalam kegunaan aktif [applied in active use]. Oleh sebab itu dalam implementasi dan applikasi Teknologi Pendidikan, ia seharusnya membawa proses belajar pada level yang lebih baik, lebih luas jangkauannya, lebih dalam, atau lebih bermakna.
DIALEKTIKA TEKNOLOGI PENDIDIKAN SEBAGAI CABANG ILMU PENDIDIKAN
Menariknya Alan Januszewski dan Michael Molenda dalam buku Educational Technology: A Definition with Commentary, ini adalah bahwa selain memaparkan secara komprehensif sejarah dan latar belakang definisi dan terminologi tentang Teknologi Pendidikan, ia membeberkan perspektif asumsi, paradigma, idea, dan pemaknaan serta konsekuensi dari definisi dan tegaknya Teknologi Pendidikan sebagai satu dari cabang Ilmu Pendidikan.
Alan Januszewski dan Michael Molenda menjelaskan misalnya bagaimana evolusi studi Teknologi Pendidikan dari perspektif sejarah kronologis redefinisi dan reposisinya, serta konsekuensi meletakkan landasan filosofis dan teori ke dalam aplikasi dan implementasi praksisnya ditengah paradigma pendidikan kontemporer, termasuk pemikiran-pemikiran atau prinsip yang melatarbelakangi kode etik profesi di bidang Teknologi Pendidikan.
Code of Professional Ethics yang ditetapkan AECT berbasis pada prinsip guna memandu anggota organisasi profesi [para profesional Teknologi Pendidikan], baik secara personal maupun kolektif untuk mencapai standar yang tinggi dalam performa kinerja profesional mereka [Welliver, 2001].
Kode profesi AECT mencakup tiga kategori komitmen, yaitu: keberpihakan kepada hak-hak individu, seperti hak atas proteksi dan akses terhadap materi serta perlindungan atas kesehatan dan keselamatan dalam profesi, pengakuan publik atas profesi dan kesetaraan dalam menjalankan tugas-tugas profesi, serta keberpihakan terhadap profesi Teknologi Pendidikan, seperti peningkatan kemampuan dan pengetahuan profesional, penghargaan terhadap kinerja dan dukungan publikasi/penerbitan ide berkait dengan bidang profesi yang digeluti.
Oleh sebab itu, secara etis praktisi Teknologi Pendidikan dituntut memahami para pembelajar, kondisi/konteks lingkungan belajar, kebutuhan dan ekspektasi masyarakat dalam praktek profesi mereka. Yang jelas Code of Professional Ethics yang ditetapkan AECT bermuara kepada pembentukan karakteristik profesionalitas dan sikap etis para ahli dan praktisi Teknologi Pendidikan.
Asumsi aksiologis yang mendasari prinsip profesi Teknologi Pendidikan, sebagaimana yang dikutipkan Januszewski [hal. 13]: “If the work of the field is not done ‘better’ by professionals than it is done by amateurs, the field has no justification for public recognition or support. It must represent some specialized expertise that is applied with professional soundness.” ***
SUMBER UTAMA
Januszewski, Alan and Michael Molenda. 2008. EDUCATIONAL TECHNOLOGY: A Definition with Commentary. Lawrence Erlbaum Associates: New York – London.
*utanto1979@gmail.com